
Jakarta, 19 September 2025 – Memasuki hari kedua Pekan Ta’aruf (PETA) Mahasiswa Baru Universitas Teknologi Muhammadiyah (UTM) Jakarta Tahun Akademik 2025/2026, kegiatan berlanjut dengan suasana penuh inspirasi yang diinisiasi oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Jika hari pertama dipandu BEM UTM Jakarta, maka hari kedua difokuskan pada penguatan nilai kebangsaan, kepemimpinan, serta pengembangan karakter mahasiswa dalam perspektif keislaman dan era digital.
Ketua Umum PK IMM FEB, Keyko Richosta Afridho, membuka acara dengan pesan penyemangat kepada mahasiswa baru.
“Semoga ini menjadi tahap awal yang baik untuk melanjutkan pendidikan. Dalam prosesnya pasti ada fase naik turun, namun semoga teman-teman bisa terus meningkatkan kapasitas diri,” ujarnya.
Dilanjutkan oleh perwakilan Fokal IMM PK IMM FEB, Luthfia Alya Rachmi, SE, yang berpesan agar mahasiswa tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperluas jejaring sosial.
“Silakan menimba ilmu sebanyak-banyaknya di bangku kuliah. IPK harus bagus, tapi jangan lupa mencari teman seperjuangan,” tuturnya.
Sambutan penuh motivasi juga disampaikan oleh Andri Armaenah, SE, MM, Kepala Bagian Kemahasiswaan UTM Jakarta. Ia menekankan pentingnya pola pikir sehat dalam menjalani perkuliahan maupun organisasi.
“Mindset menentukan segalanya. Kalau yakin diri sehat, kita akan merasa sehat. Begitupun kuliah dan organisasi, jika kita yakin bisa dilalui, insyaAllah kita mampu. Jangan pernah mengeluh, teruslah bersyukur dan manfaatkan fase mahasiswa sebagai agen perubahan,” pesannya.
Rangkaian materi hari kedua dibuka oleh M. Asmi Rizaldy, SS, M.Li, dengan topik Digital Courage. Ia menjelaskan bahwa keberanian digital bukan sekadar melek teknologi, melainkan teguh dalam prinsip dengan lima pilar utama: kesadaran, ketangguhan, integritas, keberanian, dan empati. Mahasiswa baru diajak memahami tantangan ruang maya, mulai dari hoaks, perundungan digital, hingga isu privasi dan keamanan data.
Materi berikutnya disampaikan oleh Angga Ragner, S.Sos dengan tema Islam Berkemajuan di Era Digital. Ia menegaskan bahwa prinsip Islam berkemajuan berpijak pada tauhid yang murni, Al-Qur’an dan sunnah, tajdid (pembaharuan), wasathiyah, serta rahmatan lil ‘alamin. Dalam konteks global, ia menggarisbawahi bahwa mayoritas umat Islam tersebar di kawasan Asia Pasifik, sehingga peran generasi muda muslim di era digital semakin strategis.
Sesi ditutup dengan materi dari Faishal Ikhsanudin, S.Kom bertajuk IMM sebagai Code of Leadership. Ia menguraikan sejarah berdirinya IMM sebagai organisasi kemahasiswaan, keagamaan, dan kemasyarakatan yang hadir untuk membentuk akademisi Islam berakhlak mulia. “IMM berdiri untuk memperkuat nilai keislaman, melawan infiltrasi ideologi yang menyimpang, sekaligus mencetak kader pemimpin bangsa yang berlandaskan nilai-nilai Muhammadiyah,” ungkapnya.
Hari kedua ini menjadi penguatan bahwa mahasiswa UTM Jakarta bukan hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, serta mampu berkontribusi di ruang digital dan sosial.




