
Jakarta, 2 Oktober 2025 – Universitas Teknologi Muhammadiyah (UTM) Jakarta kembali menyelenggarakan Bincang Dosen edisi ke-6 secara daring melalui platform Zoom. Kegiatan yang mengangkat tema “Tantangan dan Peluang Keamanan Siber pada Perkembangan AI dan Big Data” ini diikuti oleh 62 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum.
Acara dibuka oleh Imam Santoso, S.Kom., M.Kom., Dekan FST UTM Jakarta, yang menyoroti pentingnya kesadaran digital di tengah pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“AI memang membawa banyak manfaat, namun tetap memiliki sisi negatif. Di satu sisi, AI dapat membantu pekerjaan manusia, tapi di sisi lain bisa menimbulkan risiko seperti manipulasi data atau pembuatan video palsu yang tampak nyata. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga keamanan data pribadi di era digital ini,” pesannya.
Sebagai narasumber utama, Nana Mulyana, S.Kom., M.Kom., dosen FST UTM Jakarta, membedah secara mendalam tentang bagaimana AI dan Big Data membawa peluang besar sekaligus ancaman serius bagi keamanan siber. Ia menjelaskan bahwa AI terdiri dari berbagai komponen utama seperti machine learning, natural language processing, computer vision, dan deep learning yang bekerja dengan data besar (big data) untuk menghasilkan inovasi dan efisiensi. Namun, di balik kecanggihan itu, terdapat potensi risiko tinggi terhadap privasi dan keamanan data pribadi.
“Kemajuan teknologi memang luar biasa, tapi semakin canggih sistem yang kita bangun, semakin kompleks pula risikonya. Maka, inovasi harus berjalan seiring dengan keamanan. Jangan hanya mengejar teknologi, tapi abaikan perlindungan data,” tegasnya.
Dalam paparannya, Nana juga menguraikan beberapa tantangan utama keamanan siber di era AI dan Big Data, seperti isu privasi dan etika, kesenjangan regulasi terhadap perkembangan teknologi, serta minimnya tenaga ahli di bidang keamanan siber di Indonesia yang mencapai kekurangan hingga 80% dari kebutuhan industri. Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP No. 27 Tahun 2022) agar dapat menjawab tantangan global terkait transfer data lintas negara.
Selain tantangan, Nana menyoroti peluang besar AI dalam keamanan siber, seperti pemanfaatan AI for Cyber Defense untuk deteksi ancaman siber secara real-time, serta automated incident response yang mampu mempercepat respon terhadap serangan digital. Ia juga mengangkat studi kasus kebocoran data di Indonesia, termasuk insiden BPJS Kesehatan 2023 dan serangan ransomware pada rumah sakit yang menegaskan urgensi sistem keamanan modern.
Lebih lanjut, ia menekankan peran penting dunia akademik dalam membangun kesadaran dan keahlian keamanan digital.
“Universitas punya tanggung jawab besar, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan. Mahasiswa harus menjadi pionir literasi digital dan riset etika AI agar Indonesia mampu menciptakan ekosistem digital yang aman dan beretika,” ungkapnya.
Sesi Bincang Dosen ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Salah satu pertanyaan menarik datang dari peserta yang menyoroti kekhawatiran terhadap kebijakan transfer data pribadi antarnegara. Menanggapi hal itu, Nana menegaskan pentingnya regulasi yang kuat dan kesadaran individu dalam menjaga privasi digital. “Kita harus bijak menggunakan teknologi. Regulasi memang penting, tapi perlindungan terbesar tetap datang dari kesadaran diri pengguna,” jawabnya.
Melalui kegiatan ini, UTM Jakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat literasi keamanan digital dan membekali mahasiswa dengan wawasan strategis untuk menghadapi tantangan dunia siber di era kecerdasan buatan dan data besar.




