
Jakarta, 25 Oktober 2025 — Universitas Teknologi Muhammadiyah (UTM) Jakarta kembali mengukuhkan komitmennya dalam mendorong kolaborasi ilmiah global melalui penyelenggaraan The 3rd International Conference on Entrepreneurship, Business, and Social Transformation (ICE-BEST 2025). Konferensi internasional bergengsi ini mengusung tema besar: “Accelerating Digital and Green Transformation through Multidisciplinary Innovation for a Sustainable Future.”
Kegiatan yang digelar via zoom meeting ini dihadiri oleh para akademisi, peneliti, praktisi, dan mahasiswa dari berbagai negara seperti Timor Leste, Malaysia, Thailand, Mesir, Turki, dan Filipina. Konferensi ini menjadi wadah penting bagi pertukaran ide dan hasil riset inovatif yang relevan dengan tantangan era transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan global.
Dalam sambutan pembukaan, Rektor UTM Jakarta, Prof. Dr. H. Agus Suradika, M.Pd, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan mitra internasional yang telah berpartisipasi aktif dalam konferensi ini.
“Atas nama universitas, saya ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh peserta, pembicara utama, dan tamu kehormatan atas kehadiran serta kontribusi berharga dalam konferensi internasional ini,” ujar Prof. Agus.
Beliau menegaskan bahwa keberlanjutan penyelenggaraan ICE-BEST hingga tahun ketiga merupakan bukti nyata komitmen UTM Jakarta dalam memperkuat kolaborasi akademik lintas disiplin dan internasional.
Menurutnya, tema tahun ini sangat relevan dengan dinamika global, di mana sinergi antara inovasi digital dan ekonomi hijau menjadi kunci menghadapi perubahan zaman.
“Transformasi digital dan hijau menuntut kolaborasi dan tanggung jawab bersama untuk membangun masa depan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Rektor juga mengapresiasi kerja keras Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UTM Jakarta serta panitia pelaksana yang telah mewujudkan konferensi ini dengan sukses.
Sebagai Keynote Speaker, Prof. Dr. Lela Nurlaela Wati, SE, MM menyoroti pentingnya percepatan transformasi digital dan ekonomi hijau dalam dunia bisnis dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam paparannya berjudul “Accelerating Digital and Green Transformation through Multidisciplinary Innovation for a Sustainable Future”, Prof. Lela menjelaskan bahwa transformasi digital yang dimulai sejak awal 1990-an kini telah berkembang pesat dan menjadi faktor kunci daya saing organisasi modern.
Beliau memaparkan tiga fase utama evolusi digital: Digitization – mengubah data analog menjadi digital, Digitalization – mengotomatisasi proses manual, Digital Transformation – memanfaatkan teknologi digital untuk mengubah model bisnis dan menciptakan nilai baru.
Lebih lanjut, Prof. Lela juga menyoroti 10 tren teknologi strategis tahun 2025, di antaranya Artificial Intelligence (AI) and Security, Intelligent Automation, Hybrid Computing, hingga Energy-Efficient Computing yang diyakini akan mengubah paradigma industri global.
Beliau menekankan bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan kekuatan pendorong perubahan sosial dan ekonomi.
“Teknologi menyelamatkan nyawa, mentransformasi industri, dan membuka peluang baru untuk inovasi dan efisiensi,” ujarnya.
Dalam konteks ekonomi hijau, Prof. Lela menegaskan pentingnya integrasi teknologi digital untuk mendukung transparansi, efisiensi sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan sesuai prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
Beberapa contoh sukses transformasi digital Indonesia juga disoroti, seperti Gojek, PT KAI, Netflix, dan Amazon yang berhasil beradaptasi dengan era digital dan memberikan dampak ekonomi signifikan.
Selain menghadirkan keynote speaker, ICE-BEST 2025 juga menampilkan tiga pembicara internasional yang memberikan perspektif beragam dari berbagai negara dan bidang keilmuan. Ketiganya membagikan wawasan mendalam terkait percepatan transformasi digital dan ekonomi hijau dalam konteks global yang saling terhubung.
Pembicara pertama, Dr. Mughaneswari Sahadevan, Ph.D, Senior Lecturer dari Management & Science University (MSU), Malaysia, membahas tantangan kesiapan digital (digital readiness) dan inovasi hijau (green innovation) di sektor pendidikan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Ia menegaskan perlunya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan agar inovasi tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga keberlanjutan dan kesejahteraan sosial.
Sementara itu, Dr. Aam Slamet Rusydiana, Assistant Professor dari Sakarya University, Turki, mengulas peran halal economy dan Islamic finance sebagai elemen penting dalam mendukung transformasi ekonomi global yang berkelanjutan. Menurutnya, penguatan sistem keuangan berbasis nilai-nilai etika dan keadilan sosial dapat menjadi pondasi bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang berimbang antara aspek spiritual, sosial, dan lingkungan.
Adapun Dr. Alexandre De Sousa Guterres dari Universidade De Paz, Timor Leste, menyoroti pentingnya multinational collaboration sebagai kunci percepatan pembangunan ekonomi berbasis teknologi di kawasan Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa kolaborasi lintas negara dalam riset dan inovasi akan membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif serta memperkuat daya saing regional di era digital.
Kehadiran para pakar dari berbagai negara ini memperkaya diskusi ilmiah dalam konferensi dan menegaskan posisi ICE-BEST sebagai forum akademik internasional yang mendorong pertukaran ide, nilai, serta strategi inovatif lintas disiplin dan budaya demi mewujudkan masa depan yang hijau, digital, dan berkelanjutan.
Melalui penyelenggaraan ICE-BEST 2025, para peserta tidak hanya mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dan berbagi gagasan, tetapi juga memperoleh peluang berharga untuk mempublikasikan hasil risetnya pada sejumlah jurnal internasional bereputasi. Beberapa di antaranya meliputi International Journal of Management, Entrepreneurship, Social Science and Humanities (IJMESH), Inclusive Society and Sustainability Studies (ISSUES), International Journal of Entrepreneurship, Business and Creative Economy (IJEBCE), Applied Quantitative Analysis (AQA), serta Journal of Halal Science, Industry, and Business (JHASIB).
Publikasi tersebut menjadi bentuk nyata komitmen UTM Jakarta dalam mendorong penyebarluasan pengetahuan ilmiah sekaligus memperkuat kontribusi akademik Indonesia di tingkat global.
Lebih dari sekadar konferensi, ICE-BEST 2025 juga berfungsi sebagai platform jejaring riset internasional yang mempertemukan berbagai pihak—mulai dari universitas, lembaga penelitian, industri, hingga pemerintah. Melalui sinergi lintas sektor dan lintas negara ini, diharapkan lahir kolaborasi strategis yang mampu memperkuat fondasi pembangunan berkelanjutan berbasis inovasi digital dan ekonomi hijau.
Dengan terselenggaranya ICE-BEST 2025, Universitas Teknologi Muhammadiyah (UTM) Jakarta menegaskan komitmennya sebagai kampus technopreneurship Islam yang aktif mendorong transformasi digital dan hijau melalui riset, kolaborasi, dan inovasi multidisiplin.
Momentum ini diharapkan menjadi langkah nyata menuju masa depan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga berpihak pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan global.




