Peduli dan Siaga: Camp UTM JKT Gelar Seminar Tanggap Bencana Kebakaran dan Pembukaan Resmi Sekolah Camp UTM JKT 2025-2026

Jakarta, 6 Desember 2025 – Civitas Akademika Muhammadiyah Pecinta Alam (CAMP) Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTM JKT) mengadakan acara Seminar Tanggap Bencana Kebakaran dan Pembukaan Resmi Sekolah Camp UTM JKT 2025-2026. Acara ini diadakan di Kampus B UTM Jakarta pada hari Sabtu, 6 November 2025 dan dihadiri oleh 21 peserta acara dari mahasiswa UTM Jakarta, dan 3 narasumber, yaitu Rektor UTM Jakarta, Prof. Dr. H. Suradika, M. Pd, Yasser Atmanegara, MDMC PWM Jakarta, dan Agus Soesanto, Kepala Regu B, Gulkarmat Sektor II Kecamatan Setia Budi. 

Ketua Umum Camp UTM JKT, Ibnu Zulfikar, mengucapkan terima kasih atas semangat peserta yang telah mengikuti seminar. Dia berharap kegiatan ini bisa memberikan informasi yang berguna mengenai cara mengatasi bencana kebakaran. Menurutnya, seminar ini bukan hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menjadi tanda dimulainya program Sekolah Camp UTM JKT 2025–2026.

Dalam sambutannya, Rektor UTM Jakarta, Prof. Dr. H. Suradika, M. Pd membicarakan banyaknya bencana yang terjadi di Indonesia, seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini saudara-saudara di Sumatra tengah mengalami banjir yang parah. Rektor UTM Jakarta mengajak semua peserta camp untuk tetap bersemangat dan peduli dalam membantu masyarakat yang terkena dampak bencana. Rektor UTM Jakarta berharap peserta Camp UTM JKT bisa menjadi contoh dalam menunjukkan rasa peduli dan tindakan kemanusiaan. Ia juga berharap ke depannya, Camp UTM JKT dapat bekerja sama dengan lebih banyak pihak luar dan mengadakan kegiatan di wilayah Rorotan.

Dalam sesi materi, Rektor UTM Jakarta, Prof. Dr. H. Suradika, M. Pd menjelaskan bahwa kebakaran bisa disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya ketidaktahuan, namun bisa juga terjadi karena korsleting listrik, maka dari itu listrik di kampus juga listrik diperbaiki secara bertahap agar dapat meminimalisir kebakaran. 

Rektor juga menekankan pentingnya memahami cara menghadapi kebakaran. Ia juga mendorong civitas akademika UTM Jakarta untuk selalu mematikan aliran listrik setelah kegiatan selesai.

Api ketika masih kecil bisa jadi teman, tetapi ketika sudah tumbuh besar, ia bisa menjadi musuh” ujar Rektor UTM Jakarta.

Materi praktik tentang cara menghadapi kebakaran disampaikan oleh Kepala Regu B, Gulkarmat Sektor II Kecamatan Setia Budi, Agus Soesanto. Ia menjelaskan bahwa api adalah proses oksidasi yang terjadi dengan cepat dan menghasilkan panas, sedangkan kebakaran adalah api yang tidak terkendali serta bisa menyebabkan kerusakan.Ia juga menjelaskan bahwa gas LPG 3kg jika terjadi kebocoran tidak terbakar, tapi jika kebocorannya sudah terakumulasi dengan unsur lain, maka ada potensi terjadi kebakaran. 

Dalam prakteknya, Agus Soesanto menjelaskan bahwa dalam situasi kebakaran gas, peserta dianjurkan agar tidak panik, melepas regulator, dan menggunakan handuk atau karung goni yang basah untuk menutup tabung gas. Selanjutnya, tabung gas tersebut dipindahkan ke tempat yang aman. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kebakaran yang disebabkan oleh listrik biasanya bukan karena korsleting, melainkan karena beban yang terlalu berat, sehingga membuat kabel memanas. Penjelasan tersebut disertai dengan simulasi praktik agar peserta bisa memahami cara mengatasi masalah tersebut secara langsung.

Sementara itu, Yasser Atmanegara dari MDMC PWM Jakarta menyebutkan bahwa penanganan bencana sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Ia menjelaskan bahwa bencana memiliki berbagai tahapan, mulai dari tahap sebelum bencana yang meliputi latihan dan persiapan, seperti menyediakan alat pemadam api ringan (APAR), hingga tahap setelah bencana, seperti evakuasi dan pencatatan korban.

Dengan diadakannya Seminar Tanggap Bencana Kebakaran dan Pembukaan Resmi Sekolah Camp UTM JKT 2025-2026, UTM Jakarta berharap peserta seminar memiliki insight baru dan kepedulian terhadap penanganan bencana kebakaran dan dapat menumbuhkan nilai kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Share it :