
Jakarta, 3 Januari 2026 – Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta (UTM Jakarta) resmi meluncurkan program studi baru yaitu hukum bisnis melalui mini talkshow dengan tema “Kenapa Harus Pilih Prodi Hukum Bisnis” di Aula Kampus B UTM Jakarta, Manggarai, Jakarta Selatan pada hari Sabtu, 3 Januari 2026. Acara ini dihadiri oleh pimpinan UTM Jakarta, Rektor, Wakil Rektor I, II, III, Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, Sosial dan Humaniora, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi, Ketua Prodi, Dosen, Tendik dan Mahasiswa UTM Jakarta.
Mini Talkshow ini menghadiri 3 narasumber, yang berpengalaman dalam bidang hukum yaitu Setia Dharma, S.H.,M.H.,M.M Ketua Prodi Hukum Bisnis, Umi Rahmi, SH. MH, Perancang Peraturan Perundang-undangan Ahli Muda dan Dr. Reza Pahlevi, S.H., M.H, Praktisi Hukum Perusahaan dan Advokat Al Fath Prabowo, S.H., M.H sekaligus moderator dalam talkshow ini.
Dari Pengalaman Pribadi hingga Pilihan Karier Hukum
Sesi diskusi dimulai dengan narasumber berbagi pengalaman narasumber dalam memilih Fakultas Hukum. Salah satu narasumber mengatakan bahwa ketertarikannya pada dunia hukum muncul sejak duduk di bangku SMP, setelah ikut mengikuti sidang langsung. Meskipun berasal dari keluarga berlatar belakang hukum dan sempat tidak tertarik mengambil jurusan itu, pengalaman tersebut justru memicu rasa penasaran yang akhirnya membuatnya menekuni studi hukum.
Ketua Program Studi Hukum Bisnis UTM, Setia Dharma, S.H.,M.H.,M.M Jakarta juga menceritakan kisahnya. Awalnya, ia ingin memilih jurusan Psikologi, namun setelah direkomendasikan keluarga, ia memilih Fakultas Hukum. Keputusan ini membawanya menjadi praktisi hukum hingga sekarang, termasuk menjadi advokat sejak tahun 2008 dan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Madani pada tahun 2012.
Peluang Karier bagi Lulusan Hukum Bisnis Sangat Luas
Dalam sesi pembahasan peluang kerja, Ketua Program Studi Hukum Bisnis menjelaskan bahwa lulusan hukum memiliki banyak pilihan karier yang luas dan fleksibel. Selain menjadi advokat yang berpraktik di pengadilan, lulusan Hukum Bisnis juga dapat bekerja di sektor korporasi, pemerintahan, atau lembaga non-litigasi.
Narasumber lain menambahkan bahwa bagi calon mahasiswa yang tertarik pada analisis kebijakan, regulasi, dan pengembangan pengetahuan hukum tanpa fokus utama pada persidangan, profesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) bisa menjadi pilihan yang tepat.
Program Studi Hukum Bisnis UTM Jakarta dinilai cocok bagi mahasiswa yang memiliki minat tersebut.
Reza, salah satu narasumber, juga menekankan bahwa peran lulusan hukum tidak hanya terbatas pada proses litigasi. Di sektor konstruksi, ada profesi seperti contract engineer dan konsultan kontrak yang juga bisa diisi oleh lulusan hukum. Ini menunjukkan bahwa lulusan Hukum Bisnis memiliki daya saing yang luas di berbagai sektor.
Tantangan Lulusan Hukum di Era Digital dan AI
Topik tantangan masa depan menjadi pembahasan utama. Para narasumber sepakat bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi, termasuk penggunaan Artificial Intelligence (AI), akan menjadi tantangan besar bagi dunia hukum.
Umi menyoroti penggunaan AI dalam pembuatan kontrak dan dokumen hukum, yang menimbulkan berbagai masalah baru, seperti validitas tanda tangan elektronik, kekuatan bukti, serta batasan peran manusia dalam proses hukum yang semakin otomatis.
Ketua Program Studi Hukum Bisnis menambahkan bahwa di tengah kemajuan teknologi, moral dan karakter tetap menjadi nilai pembeda utama bagi lulusan hukum.
Ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tanpa integritas bisa merusak sistem hukum. Oleh karena itu, Prodi Hukum Bisnis UTM Jakarta berkomitmen menciptakan lulusan yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan nilai moral yang kuat, sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah.
Apakah AI Akan Menggantikan Profesi Hukum?
Mengenai pertanyaan dari peserta mengenai kemungkinan AI menggantikan pekerjaan para ahli hukum, para pembicara sepakat bahwa AI masih memiliki batasan. AI dianggap sangat membantu dalam mengolah data dan membuat draf dokumen, tetapi belum mampu menggantikan empati, penilaian manusia, strategi pengacara, serta kemampuan berargumen dan mengambil keputusan yang didasari nilai-nilai kemanusiaan.
Ketua Program Studi Hukum Bisnis menegaskan bahwa profesi hukum tidak hanya tentang dokumen, tetapi juga terkait dengan pembelaan hak, keadilan, dan tanggung jawab moral yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Siap Menghadapi Masa Depan Hukum Digital
Dalam sesi tanya jawab, peserta juga membahas perkembangan teknologi menuju masa depan digital dan era quantum. Pembicara menjelaskan bahwa pertumbuhan pusat data di Indonesia menciptakan kebutuhan besar akan tenaga hukum yang mampu mengawasi regulasi, kepatuhan, dan kebijakan di bidang teknologi.
Meskipun teknologi memberikan efisiensi, para pembicara menekankan bahwa regulasi, kesiapan SDM, serta nilai-nilai sosial dan budaya harus tetap seimbang. Pengalaman selama masa pandemi Covid-19 menjadi contoh percepatan adaptasi teknologi di bidang hukum, meskipun masih menghadapi berbagai tantangan teknis.
Melalui Mini Talkshow ini, UTM Jakarta menyatakan bahwa Program Studi Hukum Bisnis dirancang untuk memenuhi kebutuhan zaman. Kurikulum program ini selalu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, dunia usaha, dan perubahan global, tetapi tetap menjaga nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Bagi calon mahasiswa yang ingin berkembang dalam bidang hukum dengan berbagai pilihan karier hukum yang luas seperti menjadi pengacara, bekerja di perusahaan, lembaga pemerintah, atau sektor-sektor strategis lainnya, Program Studi Hukum Bisnis UTM Jakarta menjadi pilihan yang tepat dan memberi harapan yang baik.




